This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 28 September 2012

enak itu apa ya?

Kata enak, subjek yang entah sudah berapa kali saya tulis dan pertentangkan, sejauh ini. Dulu ketika saya kecil, kata enak itu bermakna. Semakin tua , kenapa ya kata itu semakin gak jelas artinya. Ketidak jelasan itu semakin terasa ketika orang mulai menambahkan kata-kata besar. Semakin besar semakin heboh orang menjadi, dan pada suatu titik kata enak menjadi kecil maknanya.
Enak adalah hak pribadi. Setiap orang punya setelan masing-masing. Setelan yang diperoleh ketika kita tumbuh besar, dari apa yang dirasakana, dimakan, dan dipelajari untuk dinikmati, hingga usia kita ini. Proses pembelajaran ini tidak akan pernah selesai hingga kita mati, walau indera perasa atau penciuman kita berkurang kala kita menua nanti.
Berbagai definisi dicoba dicari, apa yang bisa membuat seseorang merasa sesuatu itu enak. Mulai dari perasaan nyaman ketika menikmati sesuatu, atau kebahagiaan semu yang terasa kala mulut mengunyah atau tengorokan menelan maanan atau minuman itu. Perasaan nyaman seringkali muncul dari produk atau hal tambahan yang kita tambahkan pada makanan atau minuman kita. Sambal contohnya. Beberapa orang secara otomatis menambahkan sambal pada apa yang mereka makan, padahal belum sepotongpun makanan tersebut dia coba.  Disini sambal memberikan sebuah kenyamanan bagi dia, bahwa seperti apapun rasanya makanan tersebut, suka atau tidak, ada sambal yang rasanya yang sudah dia kenal, yang akan membantunya mencerna apa yang dihadapinya.
Demikian juga untuk minuman terutama kopi. Gula seringkali menjadi komponen penting dalam minuman kopi, ditambahkan bahkan sebelum diicip, sebagai sebuah jaminan bahwa seburuk apapun kopinya, ada karakter manis gula yang sudah dikenal, akan menemani kita menghabiskan minuman tersebut.
Namun sisi jelek dari teman-teman tersebut adalah seringkali kita tidak mengijinkan makanan atau minuman yang kita konsumsi untuk bercerita seperti apa dirinya. Kombinasi rasa apa yang dia tawarkan, atau bagaimana proses yang sudah dilewatinya. Rekaman jejak jerih payah mereka yang sudah bekerja keras menyiapkan produk tersebut pun terkikis, atau bahkan hilang, tertutup oleh rasa-rasa kuat yang kita kenal, dan kita bawa kemana-mana, sebagai sebuah selimut kenyamanan kala kita mengkonsumsi isi dunia ini.
Semangkuk sop kaki kambing di tanah abang membuat saya berpikir beberapa malam yang lalu. Sebuah sop yang membuat saya malas menambahkan apapun, bahkan perasan jeruk limau atau sedikit sambal yang tersedia di meja. Terasa nyaman dan solid, seakan siap menghadapi dunia tanpa butuh bantuan siapapun. Terasa enak dan stabil, baik ketika masih panas hingga agak dingin. Badan terasa nyaman dan lidah menari bahagia. Rasa penasaran muncul, dan sedikit sambal ditambahkan menjelang akhir santap. Semua kecantikan tadi hilang seketika.
Pengalaman tadi membuat saya yakin, paling tidak untuk saat ini, definisi enak itu apa. Enak adalah sebuah kondisi dimana kita bahagia mengkonsumsi, mengunyah dan menelan sebuah makanan atau minuman, tanpa perlu menambahkan sesuatu kedalamnya. Enak adalah hasil sebuah kerja keras, yang patut kita hargai, tanpa menodainya dengan zat lain, hanya demi sebuah kenyamanan diri kita kala mengkonsumsinya.
Tinggal pertanyaannya, mampukah kita mengontrol diri kita, menanggalkan selimut yang membuat kita nyaman, dan mencoba segala-sesuatu tanpa menambahkan bumbu atau bahan yang kita kenal dan sayangi? Karena kalau belum, akan susah untuk kia bisa dengan jujur bilang, bahwa apa yang kita nikmati itu memang enak.

Sumber : http://aditaroepratjeka.wordpress.com/2011/12/21/enak-itu-apa-ya/

Sejarah Kopi di Indonesia


Sejarah Kopi di Indonesia, diperkirakan dimulai dari peziarahpeziarah muslim yang kembali dari Timur Tengah membawa biji kopi mereka ke India pada awal tahun 1600. Catatan tertulis menyebutkan bahwa Gubernur Belanda di Malabar (India mengirim bibit kopi Yemen atau kopi Arabica kepada Gubernur Belanda Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1696. Bibit pertama yang dikirim gagal tumbuh dikarnakan banjir di Batavia.
Pengiriman kedua dari benih kopi ke Batavia dilakukan pada tahun 1696. Benih Kopi tersebut tumbuh, Dan pada tahun 1711, exsport pertama dikirim dari Javake Eropa oleh Perdagangan Timur India yang dikenal sebagai VOC (Verininging Oogst-Indies Company), yang dibentuk pada tahun 1602. Dalam tempo 10 tahun ekspor meningkat sampai 60 ton/tahun, dan Indonesia menjadi tempat perkebunan Kopi pertama diluar Arabia dan Ethiopia. VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 sampai 1780. Ditahun 1700an harga kopi yang dikirim dari Batavia sekitar 3 Guilden/kg di Amsterdam dan itu sama dengan beberapa ratus USD/Kg dengan kurs saat ini, harga kopi memang sangat mahal saat itu.
Akhir abad 18 harga kopi mulai turun menjadi 0.6 Guilden/kg sehingga kopi bisa diminum untuk kalangan yang lebih luas lagi. Perdagangan kopi merupakan hal yang sangat menguntungkan untuk VOC, namun tidak demikian untuk petani kopi Indonesia yang dipaksa untuk menanam oleh pemerintah kolonial. Teorinya, produksi perkebunan ekspor ditujukan untuk menyediakan uang tunai bagi masyarakat desa di Jawa untuk membayar pajak mereka , hal ini di Belanda dikenal sebagai Cultuurstelsel (Sistim penanaman), dan didalamnya termasuk rempah-rempah dan cakupan luas dari hasil bumi lain yang diproduksi oleh negara tropis .
Cultuurstelsel dimulai pada produk kopi di daerah Preanger Jawa Barat. Namun dalam prakteknya, harga yang ditetapkan oleh pemerintah sangat rendah dan mereka mengalihkan tenaga kerja dari produksi beras ke kopi yang menyebabkan penderitaan. VOC kemudian melebarkan sayap dengan menanam kopi diluar Jawa seperti di Sumatra, Bali, Sulawesi dan Timor. Di Sulawesi mulai ditanam tahun 1750, di dataran tinggi Sumatra Utara dekat Danau Toba ditanam sekitar tahun 1888 dan di Gayo, Aceh dekat danau laut tawar ditahun 1924. Bencana alam, Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan – semuanya mempunyai peranan penting bagi kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-20 perkebunan kopi berada di bawah kontrol pemerintahan Belanda. Infrastruktur dikembangkan untuk mempermudah perdagangan kopi.
Sebelum Perang Dunia II di Jawa Tengah terdapat jalur rel kereta api yang digunakan untuk mengangkut kopi, gula, merica, teh dan tembakau ke Semarang untuk kemudian diangkut dengan kapal laut. Kopi yang ditanam di Jawa Tengah umumnya adalah kopi Arabika. Di daerah pegunungan dari Jember hingga Banyuwangi terdapat banyak perkebunan kopi Arabika dan Robusta. Kopi Robusta tumbuh di daerah rendah sedangkan kopi Arabika tumbuh di daerah tinggi Pada tahun 1920 petani di seluruh Indonesia mulai menanam kopi sebagai hasil bumi yang diperdagangkan. Perkebunan-perkebunan di Jawa dinasionalisasikan pada hari kemerdekaan dan diperbaharui oleh variasi-variasi baru dari Kopi Arabika pada tahun 1950. Variasi ini juga diadopsi oleh para petani penggarap lewat pemerintah dan berbagai program pembangunan. Dewasa ini, lebih dari 90% dari kopi kopi arabika Indonesia dihasilkan oleh para petani terutama di Sumatra utara, di kebun-kebun yang luas rata ratanya adalah sekitar satu hektar. Produksi kopi arabika tahunan sekitar 75,000 ton dan 90 % ditujukan untuk ekspor.


Sumber : http://www.festivalkopi.com/article.php
 

Kopi dapat memperpanjang Usia

Kopi ternyata tidak hanya menjadi bagian dari rutinitas pagi hari. Sebuah hasil riset yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine memberikan indikasi bahwa kopi, bisa menjadi bagian dari upaya hidup sehat. Para peneliti menemukan bahwa mereka yang minum kopi ( baik yang berkafein maupun tanpa kafein) memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami kematian akibat diabetes, penyakit jantung, penyakit pernapasan, dan komplikasi medis lainnya dibandingkan mereka yang bukan peminum kopi.

Peneliti melakukan survei mengenai kebiasaan minum kopi pada lebih dari 402.000 pria dan wanita yang pada saat dimulai penelitian berusia antara 50-71 tahun dan kemudian diikuti selama kurang lebih 13 tahun (1995-2008). Setelah melakukan penyesuaian dalam analisis statistik, dengan memperhitungkan pengaruh dari faktor-faktor risiko lain seperti konsumsi alkohol dan merokok, para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa konsumsi dua cangkir atau lebih kopi per hari berhubungan dengan penurunan risiko kematian sebanyak 10% pada pria dan 15% pada wanita, jika dibandingkan dengan mereka yang bukan peminum kopi. Meskipun tidak bisa disimpulkan sebagai hubungan sebab-akibat, namun hasil penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat antara minum kopi dan hidup lebih lama.

Kopi disebutkan memiliki ratusan senyawa, yang salah satunya yaitu asam klorogenat (chlorogenic acid), yang berfungsi sebagai antioksidan (yang membantu tubuh melawan kerusakan oksidatif sel). Asam klorogenat juga dapat mengaktifkan gen yang meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi risiko diabetes tipe 2.

Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan konsumsi kopi. Yang memiliki manfaat paling baik untuk kesehatan adalah kopi yang disaring. Kopi yang tidak disaring menyebabkan senyawa cafestol berada dalam minuman, yang dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa 5-6 cangkir kopi yang tidak disaring per hari mampu meningkatkan kadar kolesterol darah. Kopi berkafein juga mesti dikonsumsi secara hati-hati oleh mereka yang sedang minum obat-obatan tertentu.

sumber : http://www.adywirawan.com/2012/09/kopi-dapat-memperpanjang-usia.html

Jumat, 20 Juli 2012

Memadukan Ilmu dan Amal

Ilmu adalah karunia paling berharga yang diberikan Allah kepada manusia. Kemuliaan ilmu ini banyak ditegaskan oleh Al-Qur'an maupaun hadis Rasulullah SAW seperti hadis yang mewajibkan seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, atau keharusan menuntut ilmu dari sejak manusia dilahirkan hingga meninggal dunia (long life education).

Sedangkan ilmu tidak dapat dikatakan ilmu jika ia tidak dihubungkan dengan amal perbuatan manusia. Rasulullah SAW mengibaratkan hubungan ilmu dan amal ini dengan pohon dan buahnya. Jika ilmu adalah sebatang pohon maka amal adalah buahnya. Jika ilmu tidak disertai dengan amal kebajikan maka ilmu tersebut tidak banyak berguna laksana pohon yang tak berbuah.

Dalam kitab Ta`limul Muta`allim, Syekh az-Zarnuji,  menerangkan bahwa banyak sekali umat Islam di masanya yang mengalami kegagalan dalam menuntut ilmu. Kegegalan yang dimaksud bukanlah kegagalan lulus atau tidak lulus dalam ujian sekolah. Akan tetapi lebih jauh lagi merupakan kegagalan sebab tidak dapat menjadikan ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi masyarakat luas. Dengan kata lain, ilmu yang tidak dapat dipetik buahnya.

Menurut Syekh Zarnuji, kegagalan ini disebabkan oleh kekeliruan motivasi menuntut ilmu (niat), memilih disiplin ilmu, guru dan teman, kurangnya penghormatan terhadap guru dan orang yang berilmu, kemalasan dalam belajar, kurangnya ibadah dan rendahnya sikap tawakkal (berserah diri kepada Allah),  wara` (menjauhi makan barang haram), zuhud (melepaskan ketergantungan terhadap materi). Sementara seluruh hal di atas merupakan syarat-syarat dan jalan yang dibutuhkan oleh setiap pelajar dalam mencapai ilmu pengetahuan yang diridhai Allah SWT.

Dari syarat-syarat keberhasilan mendapatkan ilmu di atas, terlihat jelas bahwa sebenarnya pendidikan dalam Islam memberikan perpaduan yang indah antara ilmu dan amal. Bersendikan pada kesungguhan dalam mengasah potensi intelektual dan keikhlasan dalam beramal.

Barangsiapa yang berhasil memenuhi syarat-syarat dan benar dalam cara menuntut ilmu niscara mereka akan tercerahkan hati dan pikirannya. Mereka akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri juga bagi masyarakt luas serta akan selalu berada di bawah petunjuk Allah SWT.

Sebaliknya mereka yang meninggalkan syarat-syarat yang diperlukan dalam menuntut ilmu dan belajar dengan jalan yang salah maka sudah dapat dipastikan mereka akan mengalami kegagalan dalam memadukan antara ilmu dan amal. Dalam dunia pendidikan Islam terdapat sebuah slogan yang sangat populer:

Man zada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu`dan.” Artinya: Barangsiapa yang bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah petunjuknya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah.


Rifkil Halim Muhammad

Malaikat pun Dibikin Bingung Beda Awal Puasa

Awal Ramadhan selalu membikin bingung masyarakat, mau ikut siapa. Pemerintah punya pendapat, ada pula ormas Islam yang keukeuh dengan tafsirnya sendiri. Masing-masing adu argumentasi dan perang opini, tak peduli masyarakat yang menjadi korban ketidaksepakatan para elit ini.

Syahdan, ternyata yang kebingungan bukan hanya masyarakat di pelosok desa dan kota se-Indonesia, para malaikat pun mengalami hal yang sama.

“Ini setan-setan harus dipenjara kapan ya? Ikut penetapan pemerintah apa ormas Islam yang puasa lebih awal”

Karena tidak bisa mengambil keputusan, akhirnya dilakukan rapat besar para malaikat untuk menentukan kapan setan-setan harus masuk bui. Kesepakatannya, setan yang biasa menggoda pengikut ormas yang puasa lebih awal, masuk kerangkeng lebih dulu, sedangkan lainnya esok harinya. Ini hasil yang dirasa ideal dan adil.

Sayangnya, ketika dilakukan eksekusi di lapangan, situasi yang dialami jauh berbeda. Dalam razia dan penangkapan, para setan protes, semuanya mengaku ikut ketetapan pemerintah “Lumayan, bisa bebas sehari lebih lama” pikir para setan.

Para malaikat lalu melakukan rapat kilat untuk mengatasi situasi darurat ini akibat ulah setan yang sengaja berkelit dan mangkir dari ketentuan azali ini. Lalu diputuskan, semuanya masuk penjara lebih awal sehari sesuai dengan jadual puasa ormas Islam itu.

Tak kehilangan akal, para setan pun mengajukan protes, “Sebagai makhluk tuhan yang ditugaskan menggoda, kita masih boleh menggoda manusia sampai besok. Ramadhan kurang satu hari kok kita sudah pada dikerangkeng”

Nah lho… malaikat pun kembali kebingungan, karena berdasarkan ketetapan dalam kitab suci, setan hanya akan masuk kerangkeng pas bulan puasa, tidak boleh ditambah atau dikurangi harinya. (mukafi niam)

sumber dari http://www.nu.or.id

Hadis tentang Taat kepada Pemimpin

BATAS KETAATAN KEPADA PEMIMPIN

1203 حَدِ يْثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا, أَطِيْعُواللهَ وَأَطِيْعُو الرَّسُوْلَ وَأَوْلِي اْلأَمْرِمِنْكُمْ, قَالَ: نَزَلَتْ فِي عَبْدِاللهِ بْنِ خُذَافَةَ بْنِ قَيْسِ بْنِ عَدِيٍّ, إِذْبَعَثَهُ النَّبِيُّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ.                                                  (أخر جه البخاري )
Artinya:
Ibn Abbas r.a. berkata: Ayat : Athi’ullaha wa athi’urrasula wa ulil amri minkum (taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasulullah dan pemerintah dari golonganmu). Ayat ini turun mengenai Abdullah bin Hudzaifah bin Qais bin Adi ketika diutus oleh Nabi saw. Memimpin suatu pasukan. (Bukhari, Muslim)
1204 حَدِيْثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَ مَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَ مَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، مَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.   (أخرجه البخاري)
Artinya:
Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Siapa yang taat kepadaku maka berarti taat kepada Allah, dan siapa yang maksiat kepadaku berarti maksiat kepada Allah, dan siapa yang taat kepada pimpinan yang aku angkat berarti taat kepada taat kepadaku, dan siapa yang melanggar amier yang aku angkat berarti melanggar kepadaku (Bukhari, Muslim)
1205 حَدِيْثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، قَالَ: اَلسَّمْعُ وَ الطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْاِ الْمُسْلِمِ فيما أحب و كره، مالم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية فلا سمع و لا طاعة.أخرجه البخاري)
Artinya:
Abdullah bin Umar ra berkata: Nabi saw bersabda: mendengar dan taat itu wajib bagi seorang dalam apa yang ia suka atau benci, selama ia tidak diperintah berbuat maksiat, maka jika diperintah maksiat maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib taat (Bukhari, Muslim)
1206 حَدِيْثُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: بَعَثَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَرِيَّةً وَ أَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلاً مِنَ اْلأَنْصَارِ وَ أَمَرَهُمْ أَنْ يُطِيْعُوْهُ. فَغَضَبَ عَلَيْهِمْ، وَ قَالَ: أَلَيْسَ قَدْ أَمَرَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ تَطِيْعُوْنِي؟ قَالُوْا: بَلَى. قَالَ: عَزَمْتَ عَلَيْكُمْ لَمَا جَمَعْتُمْ حَطَبًا وَ أَوْقَدْتُمْ نَارًا ثُمَّ دَخَلْتُمْ فِيْهَا. فَجَمَعُوْا حَطَبًا، فَأَوْقَدُوْا. فَلَمَّا هَمُّوْا باِلدُّخُوْلِ، فَقَامَ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا تَبِعْنَا النَّبِي صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِرَارًا مِنَ النَّارِ، أَفَنَدْخُلُهَا؟ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذلِكَ اِذْ خَمَدَتِ النَّارِ، وَ سَكَنَ غَضْبُهُ. فَذُكِرَ لِلنَّبِي صلي الله عليه سلم فَقَالَ: لَوْ دَخَلُوْهَا مَا خَرَجُوْا مِنْهَا أَبَدًا، إِنَّمَا الطّاَعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ.  (أخرجه البخاري)
Artinya:
Ali ra berkata: Rasulullah saw mengirim pasukan dan diserahkan pimpinannya kepada sekorang sahabat Anshar, tiba-tiba ia marah kepada mereka dan berkata: Tidakkah Nabi saw telah menyuruh kalian menurut kepadaku? Jawab mereka Benar. Kini aku perintahkan kalian supaya mengumpulkan kayu dan menyalakan api kemudian kalian masuk ke dalamnya. Maka mereka mengumpulkan kayu dan menyalakan api, dan ketika akan masuk ke dalam api satu sama lain pandang memandang dan berkata: Kami mengikuti Nabi saw, hanya karena takut kepada api, apakah kami akan memasukinya. Kemudian tidak lama padamlah api dan reda juga marah pemimpin itu, kemudian kejadian itu diberitakan kepada Nabi saw maka sabda Nabi saw: Andaikan mereka masuk api itu niscaya tidak akan keluar selamanya. Sesungguhnya wajib taat hanya dalam kebaikan (Bukhari Muslim)

1207 حَدِيْثُ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامَنِ، عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ، قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيْضٌ، قُلْنَا: أَصْلَحَكَ الله، حَدِّثْ بِحَدِيْثٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِ، سَمِعْتَهُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا، أَنْ بَايَعَنَا عَلىَ السَّمْعِ وَ الطَّاعَةَ فِيْ مَنْشَطِنَا وَ مَكْرَهِنَا وَ عُسْرِناَ وَ يُسْرِنَا وَ أَثْرَةٍ صَلَيْنَا، وَ أَنْ لاَ نُنَارِعَ اْلأَمْرِ أَهْلَهُ: إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانً. (أخرجه البخاري)
Artinya:
Junadah bin Abi Umayyah berkata: Kami masuk kepada Ubadah Abi Ash Shamit ketika ia saki, maka kami berkata: Semoga Allah menyembuhkan engkau, ceritakan kepada kami hadits yang mungkin berguna yang pernah engkau mendengarnya dari Nabi saw. Maka berkata Ubadah: Nabi saw memanggil kami, maka kami berbaiat kepadanya, dan diantara yang kami baiat itu: Harus mendengar dan taat di dalam suka, duka, ringan dan berat, sukar dan mudah atau bersaiangan (monopoli kekuasaan) dan supaya kami tidak menentang suatu urusan dari yang berhak kecuali jika melihat kekafiran terang-terangan ada bukti nyata dari ajaran Allah (Bukhari Muslim)

ANALISIS
Dari hadis-hadis di atas dapat saya analisa bahwa kita diwajibkan untuk mentaati para pemimpin kita, sebagaimana dijelaskan dalam hadis 1203 dan hadis 1204 diatas, hal ini diwajibkan karna taat kepada pemimpin merupakan cerminan dari ketaatan kita kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Allah SWT.
Pada hadits 1205 dan 1207 diatas memberikan penegasan kepada kita bahwa ketaatan kita kepada pemimpin tidak dibatasi rasa suka atau tidak suka, ringan atau berat, sulit atau mudah perintah pemimpin tersebut, namun kita wajib taat dalam situasi apapun.
Meski demikian, ketaatan kita terhadap pemimpin bukanlah taat secara membabi buta, namun kita harus tetap berpegang teguh terhadap syariat Allah dan kebaikan, atinya ketaatan kita hanya diperuntukkan bagi pemimpin yang menjalankan syariat Allah dan kemaslahatan ummat, apabila pemimpin tersebut memerintahkan dalam hal maksiat maka kita diwajibkan untuk tidak taat, hal ini dijelaskan dalam hadis 1205, 1206, dan 1207.

kutipan dari tugas mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya bernama Andi Supriyanto